KAJIAN SINGKAT SEJARAH GEREJA INDONESIA

KAJIAN SINGKAT SEJARAH GEREJA INDONESIA

THEGIDEONS.MY.ID - ARTIKEL/TULISAN/MAKALAH KAJIAN SINGKAT SEJARAH GEREJA INDONESIA

SEJARAH GEREJA DI INDONESIA 

  • Pendahuluan

Tulisan ini sangat didasarkan atas beberapa buku yang dipakai sebagai sumber kepustakaan. Isi dari Tulisan ini diharapkan dapat menolong para mahasiswa memahami seluk-beluk sejarah gereja di Indonesia itu sendiri.

Disadari bahwa isi dari tulisan ini masih jauh dari sempurna, dan di sana-sini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu sangat diharapkan saran-saran serta kritik yang membangun dari para pembaca demi menyajikan yang terbaik dan untuk penyempurnaannya tentunya. Dan semoga tulisan ini bisa dipergunakan dengan sebaik-baiknya dan berguna untuk menambah pengetahuan mahasiwa.

1. Deskripsi Mengenai: Agama dan masyarakat Indonesia asli.  Sebelum datangnya agama-agama besar seperti Hindu, Budha, Islam dan Kristen ke bumi Indonesia, masyarakat Indonesia asli adalah penganut agama suku (agama primitif). 

Setiap suku yang ada di Indonesia mempunyai agamanya yang tersendiri dan satu sama lain sangat berlainan menurut corak dan bentuk serta karakter masing-masing (lain agama suku Batak, lain agama suku Jawa, suku Dayak, Irian, dll). Walau berlainan satu sama lain, ada kesamaan corak secara umum, kesamaan ini nantinya akan banyak memberi pengaruh terhadap sejarah kekristenan di Indonesia, misalnya soal:

a.Agama-agama suku itu menganut paham animisme, yakni: kepercayaan tentang adanya roh-roh atau kekuatan-kekuatan yang menguasai alam ini. Setiap benda, baik itu pohon, binatang-binatang, tempat-tempat, diyakini didiami oleh roh-roh tertentu.

b. Agama-agama suku itu mempunyai aturan hidup atau adat yang mengatur segala aspek kehidupan, rohani dan jasmani. Adat itu tidaklah merupakan aturan yang lepas dari agama dan menurut kepercayaan suku-suku itu, adat tersebut diturunkan oleh dewa-dewa melalui nenek moyang suku-suku atau marga-marga itu. Karena itu wibawa nenek moyang sangat dihormati bahkan juga disembah bagaikan suatu dewa.

c. Apabila adat itu diikuti secara sempurna, dipercayai akan membawa selamat atau berkat bagi masyarakat suku itu, tetapi sebaliknya apabila dilanggar akan membawa kutuk atau malapetaka.

Secara umum semua suku di Indonesia mempunyai masyarakat yang kolektif. Ini berarti tidak ada tempat bagi perorangan untuk mengambil jalan sendiri. Dalam segala aspek kehidupannya, mereka dipimpin oleh kepala-kepala suku yang mana mereka biasanya adalah para “datu” atau orang-orang yang mempunyai kesaktian khusus, sehingga wibawa mereka sangat besar dan kata-katanya dituruti oleh seluruh masyarakat suku itu. 

Susunan masyarakat itu dapat dijelaskan dengan menggunakan pohon. Pohon itu keseluruhannnya adalah masyaraakat suku itu. Pohon itu mempunyai batang, dahan, cabang, ranting yang menggambarkan bagian-bagian atau cabang-cabang dari suku itu yang tidak terlepas satu sama lain.

(Agama-agama dari luar yang datang ke Indonesia)  Mulai dari abad pertama Masehi sampai abad dua puluh ini telah ada beberapa agama dari luar yang masuk ke Indonesia, yakni agama Hindu, Budha, Islam dan Kristen. Mengenai agama-agama ini dapat dikatakan bahwa: 

a.  Agama Hindu dan agama Budha telah masuk ke Indonesia sejak abad pertama Masehi yakni melalui pedagang-pedagang yang datang dari India. Pada waktu itu Indonesia memang telah ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari berbagai negara di dunia, antara lain dari Tiongkok, India, Persia dan Mesir. Dari India banyak pedagang-pedagang yang datang ke Indonesia untuk membeli rempah-rempah dari saudagar-saudagar yang berasal dari Jawa dan Sumatera. Kemudian dari antara pedagang-pedagang India itu ada juga yang berhasil tinggal di Indonesia. Di Indonesia mereka berusaha untuk mengembangkan pengaruh mereka yakni dengan menyebarkan agama dan budaya mereka, dan juga dengan mendirikan beberapa kerajaan yang besar seperti kerajaan Sriwijaya yang menganut agama Budha di Sumatera Selatan dan kerajaan Mojopahit yang menganut agama Hindu di Jawa. Kehadiran agama Hindu dan agama Budha itu memang tidak menghalau begitu saja agama-agama suku yang sudah ada. Malah di beberapa tempat seperti di Tapanuli (Tanah Batak), pengaruh Hindu itu telah memperkaya agama dan budaya suku setempat yakni suku Batak. Bagi masyarakat dan kepercayaan suku Batak, pengaruh kebudayaan dan agama Hindu dan Budha sangat nyata sekali. Hal ini telah diteliti oleh H. Parkin yang dituangkan dalam sebuah disertasi mengambil Doktor Teologi yang berjudul “Batak Fruit of Hindu Thought” (Buah Batak dari pemikiran Hindu), yang telah diterbitkan di Madras, India, tahun 1978. Begitu besarnya pengaruh agama Hindu dan Budha atas masyarakat Indonesia nampak dari sejumlah peninggalan-peninggalan mereka di Indonesia, antara lain berupa candi-candi dan kuil-kuil, seperti Candi Mendut dan Candi Borobudur. Sampai sekarang penganut agama Hindu dan agama Budha masih banyak dijumpai di Indonesia, seperti di Jawa dan Bali, dan bahkan kedua agama itu sudah merupakan agama yang diakui secara resmi di Indonesia.

b. Agama Islam masuk di Indonesia sejakabad ke-13, yang juga melalui jalur perdagangan. Pedagang-pedagang Gujarat dari India Barat, yang datang berdagang ke Indonesia menyebarkan agama itu di Indonesia. Para pedagang-pedagang Gujarat yang membawa agama Islam itu sebelumnya mengenal agama itu melalui para pedagang yang datang ke negeri mereka dari Arabia, dari Mesir dan Persia, sejak abad 9. Di Indonesia, daerah yang pertama dimasuki oleh agama Islam itu ialah Aceh, yang karena itu negeri tersebut masih digelari “serambi Mekkah”. Kemudian setelah dari Aceh, agama Islam itu menyebar lagi ke daerah-daerah Indonesia yang lain. Cara penyiaran agama Islam itu ialah dengan memasuki kota-kota pelabuhan dan mengikuti jalur-jalur perdagangan. Kemudian di tempat-tempat yang telah dimasuki, penyebar-penyebar agama Islam itu berusaha menjalin hubungan dengan raja-raja, sultan-sultan atau penguasa-penguasa setempat yakni dengan mengawini putri-putri raja-raja tersebut atau sebaliknya. Dengan demikian pengaruh raja-raja setempat tersebut bisa dimanfaatkan oleh pedagang-pedagang Islam tersebut dalam usaha penyebaran agama itu. Melalui raja-raja atau sultan-sultan itu maka berdirilah kerajaan-kerajaan Islam yang berpusat di kota-kota pelabuhan atau di pusat-pusat perdagangan, baik di Sumatera, Jawa sampai ke Maluku. Dari antara pemimpin-pemimpin agama Islam yang kita kenal dari sejarah Indonesia, antara lain Maulana Malik Ibrahim dan Falatehan.


c. Agama Kristen yang kita kenal sekarang ini masuk ke Indonesis melalui orang-orang Eropa (Barat) mulai pada abad 16 yang lalu. Tetapi dalam penelitian sejarah belakangan ini, telah ditemukan suatu bukti yang memberi petunjuk bahwa sekitar pertengahan abad ke tujuh (kira-kira tahun 645 M) yang lalu kekristenan telah pernah masuk di Indonesia yakni di daerah Barus, Tapanuli Tengah. Hal ini diketahui dari sebuah dokumen sejarah kuno di Mesir yang melaporkan bahwa di sebuah tempat bernama Pancur (dekat Barus) telah pernah berdiri beberapa biara Kristen. Kekristenan yang dijumpai di Barus itu dibawa oleh pedagang-pedagang Kristen Nestorian dari Mesopotamia atau Persia. Pada waktu itu Barus sudah merupakan sebuah kota pelabuhan yang ramai disinggahi oleh pedagang-pedagang dari banyak negara dan bahkan menjadi sebuah kota perdagangan yang laris, karena daerah sekitar Barus itu banyak menghasilkan kapur Barus yang pada waktu itu merupakan bahan perdagangan yang sangat laris, terutama ke Mesopotamia dan Mesir. Tetapi tidak diketahui dengan jelas sampai kapan kekristenan di sana bisa berlangsung. Dan kekristenan yang pernah ada di sana itu tidak berkesinambungan, karena tidak ada orang-orang Kristen di Indonesia sekarang yang berasal dari kalangan Kristen Nestorian tersebut. Rupanya kekristenan yang di Barus itu sempat menjadi hilang lenyap, setelah pedagang-pedagang Nestorian itu meninggalkan tempat tersebut.

Kemudian kekristenan masuk ke Indonesia pada abad 16, ini sangat dimotori oleh datangnya orang-orang Portugis dari Eropa (mulai datang ke Indonesia tahun 1522). Ada tiga faktor yang mendorong kedatangan orang-orang Portugis ke Indonesia dan daerah-daerah Asia lainnya. 

  • Faktor pertama ialah alasan ekonomi. Mereka mau mencari keuntungan yang besar dengan berusaha menguasai perdagangan sampai ke Indonesia, di mana diperoleh banyak rempah-rempah sebagai bahan perdagangan yang sangat laris di Eropa pada waktu itu. 

  • Faktor kedua ialah alasan politis. Mereka mau melumpuhkan kekuatan Turki (yang sudah beragama Islam), yang sebelumnya telah menguasai perdagangan antara Asia dan Eropa. Pada waktu itu dengan mengandalkan kekuatan ekonominya, bangsa Turki telah mencoba memperluas pengaruh dan kekuasaannya sampai ke Eropa. 

  • Faktor ketiga ialah alasan agama. Sebagai penganut Kristen Roma Katolik (RK), mereaka merasa bertanggungjawab untuk menyiarkan agama Kristen itu di negeri-negeri yang baru mereka temukan di luar Eropa.

Adanya penemuan-penemuan daerah-daerah baru ini oleh orang-orang Portugis sangat menyenangkan bagi pimpinan gereja RK di Roma, sehingga Paus segera mendorong orang-orang Portugis menyebarkan agama Kristen itu di daerah-daerah yang baru ditemukan tersebut. Sebagai rangsangan untuk usaha ini, Paus memberi hak: “padroado” kepada raja Portugis. Hak yang sama juga diberikan kepada raja Spanyol yang menemukan Filipina dan Amerika Selatan. 

Padroado berarti raja sebagai majikan atau pelindung gereja di wilayah yang dikuasainya. Itu berarti raja diberi hak atau wewenang untuk mengurus gereja dan misi gereja di daerah kekuasaannya itu, antara lain hak untuk mengangkat uskup, membangun gereja dan biara-biara, dan mengurus keperluan ibadah dan belanja pengurus gereja. Dan juga diberi hak untuk mengutus penginjil-penginjil ke tengah-tengah bangsa-bangsa yang dijumpai di daerah baru itu. 

Bagi pemikiran Eropa, pemberian hak seperti itu adalah lumrah, karena pada waktu itu di Eropa berlaku suatu semboyan yang mengatakan: “Cuuius Regio, Illius Religio”, yang artinya siapa punyai negeri dia juga punya agama. Artinya siapa yang berkuasa di satu-satu daerah, maka agama dari rajanya itulah yang harus dipeluk oleh rakyatnya. Missionaris RK yang sangat terkenal di Indonesia dan seluruh Asia ialah Fransiscus Xaverius yang menginjili di Asia dari tahun 1542 sampai kematiannya tahun 1552. Di Indonesia (Maluku) dia bekerja dari tahun 1546-1547. Pada tahun 1622, gereja RK telah menetapkan Xaverius sebagai salah seorang “santo” (orang kudus).

d. Agama Kristen Protestan mula-mula masuk ke Indonesia oleh orang-orang Belanda yang datang ke Indonesia mulai tahun 1596 di bawah pimpinan Cornelius de Houtman. Alasan yang mendorong kedatangan Belanda ke Indonesia yang paling menonjol ialah untuk berdagang. Mereka ingin memonopoli perdagangan antara Asia dan Eropa. Dengan kebijaksanaan pemerintah Belanda, pedagang-pedagang Belanda itu dipersatukan dalam satu kompeni (serikat) yang bernama: “Verenigde Oostindische Compagnie” (Persatuan Maskapei di India Timur) yang disingkat dengan VOC, tahun 1602. VOC ini kemudian menjadi pemerintah atau penguasa di Indonesia, karena kepadanya pemerintah Belanda memberi hak dan kekuasaan untuk mengangkat militernya, membuat mata uang, dan mengadakan hubungan diplomatik dengan negara-negara lain, dll. Dengan kekuasaan ini maka VOC bisa bertindak keras di Indonesia demi memajukan usaha perdagangan mereka.

Sebagai pedagang, orang-orang Belanda tidak begitu mengutamakan usaha penginjilan. Usaha penyebaran Injil kepada orang-orang pribumi hanya dilakukan apabila usaha itu diperkirakan membawa keuntungan bagi usaha dagangnya. Apabila ada suatu suku tertentu mau dikristenkan, adalah dengan maksud supaya suku itu dapat dengan mudah dikuasai dan bisa setia kepada penguasa Belanda. 

Untuk daerah-daerah yang sudah Islam, VOC tidak mengusahakan pekabaran Injil, karena mereka takut akan memperoleh perlawanan dari masyarakat Islam tersebut. Di wilayah-wilayah yang sudah dikuasai oleh VOC gereja didirikan, semua pendetanya digaji oleh VOC. Dan setelah VOC bubar tahun 1799, gereja-gereja yang didirikan oleh VOC itu diambil-alih oleh pemerintah Belanda. Gereja-gereja yang berada di tangan pemerintah Belanda ini disebut: Gereja Protestan di Indonesia (Indische Kerk).    

  • Periodisasi sejarah gereja Indonesia

Periodisasi sejarah gereja Indonesia

Periodisasi berarti usaha membagi-bagi masa sejarah gereja itu atas periode (batas-batas waktu) tertentu. Cara pembagian periode itu ada bermacam-macam; ada yang membaginya dari segi perkembangan atau perluasan gereja itu; ada yang membaginya dari segi pertumbuhan organisasi atau kepemimpinan gereja itu sendiri. Dr. Th. Mueller Krueger dalam bukunya: Sejarah Gereja di Indonesia, membuat periodisasi sejarah gereja-gereja di Indonesia, bertolak dari segi: siapa yang datang menyebarkan Injil itu. Dengan demikian dia membuat periodisasi Sejarah Gereja di Indonesia, sbb:

1520-1605 : Zaman misi Katolik Roma (yang mengabarkan Injil itu: Katolik, Portugis)

1605-1800  : Zaman zending VOC

1800-1940  : Zaman zending oleh lembaga-lembaga PI dari Eropa

Pembagian periode yang lain dibuat oleh peserta studi Institute Sejarah Gereja tahun 1977 di Jakarta, berdasarkan perluasan dan perkembangan gereja itu, demikian:

1522-1570  : Zaman perluasan pertama, berakhir dengan pembunuhan Sultan  Hairun di Ternate dan merosotnya kekuasaan Portugis di Nusantara.

1570-1815 : Zaman stagnasi; ada sedikit perluasan pada masa pertama VOC, tetapi tidak begitu berarti.

1815-1870 :  Zaman mulainya didirikan pangkalan-pangkalan baru, tetapi belum terjadi pengkristenan secara besar-besaran, kecuali di Minahasa.

 1870-1950 :  Zaman didirikannya gereaja-gereja suku.

1950-…    :  Zaman penyebaran Injil di pulau Jawa dan juga di daerah-daerah lain. Pengkristenan penganut-penganut agama suku pada dasarnya sudah berakhir.

Th. Van den End, dalam bukunya Ragi Carita 1, menggunakan periodisasi yang berdasarkan beberapa segi sejarah gereja yang digabung, sehingga dengan demikian dia membagi sejarah gereja di Indonesia atas dua zaman besar, yakni:

I.   1522-1800: Pada periode ini negara (Portugis dan VOC) memainkan peranan penting dalam perluasan dan pemerintahan gereja. Di pihak lain PI diselenggarakan oleh suatu lembaga gereja dan membawa serta bentuk ibadah dan ajaran yang berlaku dalam gereja itu. Pendekatan terhadap agama dan kebudayaan yang mereka temukan di Indonesia bersifat negatif semata-mata. Dan orang-orang Indonesia tidak ikut serta dalam kepemimpinan gereja; organisasi gereja bersifat hierarkis dan dipimpin oleh orang-orang Barat.

II. 1800-1940-an: Yang dibagi atas beberapa sub-periode yakni: 1800-1860-an; 1860-1920-an; 1920-1940-an. Pembagian ini didasarkan atas faktor perluasan, faktor pola berfikir para zendeling (missionar), faktor peranan orang-orang Indonesia dalam kehidupan gerejani dan faktor perkembangan di bidang politis. Faktor-faktor ini berlaku bagi sejarah gereja di Indonesia dilihat sebagai satu kesatuan.

Klik dan Lihat: Perkembangan dan kemunduran Gereja di Indonesia


Untuk Keperluan Perkuliahan/Tugas Kuliah

Belum ada Komentar untuk "KAJIAN SINGKAT SEJARAH GEREJA INDONESIA"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel